Ranah 3 Warna

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah setelah seminggu yang lalu terbeli,  buku kedua dari Trilogi Negeri 3 Menara yang berjudul  “Ranah 3 Warna karya Mas Ahmad Fuadi  dengan susah payah akhirnya selesai juga kubaca.  Seperti pendahulunya “Negeri 3 Menara”, novel ini sarat nuansa perjuangan dan liku-liku hidup anak manusia yang punya mimpi untuk menginjakkan kakinya di benua Amerika.  Dengan bekal kalimat mantra yang diperoleh saat menuntut ilmu di Pondok Gontor dan selalu tersimpan di benak dan lubuk hatinya  :  man jadda wajada dan  man shabara zhafira, dia berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.

Yaa…dengan mantra yang berarti “siapa bersungguh-sungguh akan berhasil” dan  “siapa yang bersabar akan beruntung” itu Alif berhasil dalam memenangkan hidup. Kecintaannya pada orang tua dan juga sebaliknya doa orang tua yang  selalu menyertainya  dalam  meraih mimpi-mimpinya juga merupakan teladan yang patut ditiru.

Juga pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya (halaman 467) :

Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. inilah badai yang bisa membongkar dan menghempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut handal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?

Semoga kita semua bisa memetik hikmah yang terkandung dalam pikiran Mas Ahmad Fuadi yang tertuang dalam novel ini. Amin…..

Dari Lereng Gunung Selamet, Randu Dongkal – Pemalang,  31  Maret  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Lomba Menggambar

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Sabtu kemarin tgl 26 Maret 2011, putri kecilku Faniar Tasha Almara (ehh… tidak terasa dia sudah umur 11 tahun) minta dianterin ikut lomba menggambar di Hotel Beringin – Salatiga. Terpaksa ijin tidak masuk kerja demi putri tercinta. Demi persiapan lomba, putriku minta diajarin Pakdhenya cara menggambar dan mewarnainya, maklum sudah kelas 5 SD dan di kota terdahulu kami “Purwakarta” sudah jarang diadain lomba menggambar untuk kelas 4 keatas. Jadi ini lomba pertama di kota ini yang diikutinya setelah hampir 2 tahun tidak pernah ikut lomba lagi.

Lomba diadakan pukul 14.00 dan peserta harus registrasi 30 menit sebelumnya. Jam 13.00 putriku udah merengek minta dianter sekarang juga, diluar hujan deras. Setelah proses negosiasi sana sini dengan alasan mau mandi dulu dan mau sholat, putriku dengan cemberut nungguin ayahnya selesai sholat. Jam 13.15 berangkat menuju hotel dan 10 menit kemudian sudah nyampe, dan ternyata ruangan masih sepi hanya ada panitianya…ahh mungkin karena diluar masih hujan kali…

Lomba ternyata mulainya molor sampai jam 14.30 karena nunggu pesertanya lengkap. Untuk menggambar dan mewarnai dikasih waktu 60 menit, mulailah putri kecilku menorehkan pensil diatas kertas dengan bekal ilmu yang diperoleh dari Pakdhenya. Inilah hasil akhirnya….

Setelah menunggu 30 menit untuk penjurian, tibalah saatnya untuk pengumuman hasil. Kakak pembawa acara mulai membacakan juaranya mulai dari juara harapan 2…. dan ketika menyebut juara harapan 1 ternyata nama putriku yang dipanggil….saya lihat ekspresinya sangat gembira sekali, dengan mantap digenggamnya piala itu sambil menyunggingkan senyum yang manis sekali…ohh putriku kelihatan sangat bahagia sekali walaupun tidak memperoleh juara tiga, dua atau bahkan juara satu…

Ini foto putriku (kedua dari kiri) ketika menerima piala dan piagam penghargaan…

Ini baru langkah awal putriku….teruslah belajar sama Pakdhe cara menggambar yang baik, maafkan ayahmu ini yang tidak bisa mengajarimu cara menggambar karena ayahmu memang tidak tahu caranya, bahkan menggambar adalah pelajaran yang paling ayah tidak sukai sejak ayahmu masih SD dulu….hiks..hiks..

Dari lereng Gunung Selamet, Randu Dongkal – Pemalang,  30  Maret  2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Hutan Wisata Alam Pulau Kembang, Banjarmasin – Kalsel

Untuk mencapai Hutan Wisata Alam Pulau Kembang kita harus menyusuri Sungai Barito karena memang letaknya di tengah Sungai Barito. Dengan menyewa ketinting kita bisa mulai menyelusuri Sungai Barito,

Kalau kita berangkat pagi-pagi sekali maka kita akan bertemu dengan Pasar Apung Sungai Barito. Macam-macam kebutuhan sehari-hari seperti sayuran dan buah-buahan dijual disini. Mereka menjajakan dagangannya dengan merapatkan perahu mereka ke perahu kita dan siap melakukan transaksi dan tawar menawar harga.

Selesai membeli pisang yang akan dipakai untuk memberi makan monyet-monyet di Pulau Kembang, kita bisa mampir di Warung Makan Apung yang banyak bertebaran di sepanjang sungai dengan menu khas soto dan rawon.

Setelah kenyang makan rawon, lanjut menuju Hutan Wisata Alam Pulau Kembang yang terkenal dengan wisata cagar alam dengan satwanya berupa monyet,

Sayangnya kita sudah menyelusuri hutan tak ada satupun monyet yang keluar padahal sudah dipanggil-panggil oleh pemandu wisata yang mengantarkan kita, infonya tadi pagi monyetnya sudah diberi makan pisang oleh turis-turis dari Malaysia, akhirnya monyet-monyet inilah yang nampang untuk foto bersama…hehehe…

Demikianlah sekelumit tentang Hutan Wisata Alam Pulau Kembang di tengah Sungai Barito, Banjarmasin – Kalsel, semoga dilain waktu bisa mampir lagi kesana dan bertemu dengan tuan rumahnya alias monyet…

Dari Pinggiran Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru – Kalsel,  08  Maret  2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Museum Mulawarman dan Pulau Kumala, Tenggarong – Kutai Kartanegara – Kaltim

Sabtu, 05 Maret 2011 melakukan perjalanan wisata ke Tenggarong – Kutai Kartanegara dari Loa Janan muter lewat Samarinda karena menurut info jalannya lebih mulus. Dari Samarinda ke Tenggarong dihubungkan oleh Jembatan Gerbang Daya yang melintasi Sungai Mahakam.

Gbr. Jembatan Gerbang Daya, Tenggarong – Kutai Kartanegara

Dari jembatan kita melewati Kantor Bupati Kutai Kartanegara menuju tujuan pertama yaitu Museum Mulawarman yang merupakan tempat penyimpanan peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Dengan tiket seharga Rp 2.500 per orang kita bisa memasuki bangunan bersejarah ini.

Gbr. Museum Mulawarman, Tenggarong – Kutai Kertanegara

Setelah selesai muter2 museum, lanjut ke Pulau Kumala yang  terletak di tengah Sungai Mahakam.

Berpose di Tepian Mahakam dengan latar belakang Pulau Kumala

Dengan menggunakan ketinting (perahu motor kecil) kita menyeberangi Sungai Mahakam menuju Pulau Kumala dengan tarif  Rp 20.000 sekali jalan.

Gbr. Ketinting, menyeberangi Sungai Mahakam

Tiket masuk Pulau Kumala seharga Rp 20.000 per orang (tiket hari Minggu dan Hari Besar) sudah termasuk soft drink dan keliling pulau menggunakan mobil Cabin Tour. Secara keseluruhan tempat wisata Pulau Kumala masih perlu banyak pembenahan karena masih banyak arena2 permainan yang kurang terawat, juga kios2 yang masih kosong dan tidak terawat. Maklum tempat ini baru diresmikan oleh Menteri Pariwisata Jero Wacik pada bulan Juni 2010 kemarin.

Gbr. Pintu Gerbang Pulau Kumala

Gbr. Pulau Kumala dengan Lembuswarnanya

Gbr. Mobil Cabin Tour, sarana transportasi keliling pulau

 

 

Dari Tepian Mahakam – Kutai Kartanegara, 05 Maret 2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Assalamu’alaikum…

 

Bismillah…ijinkan lewat tulisan-tulisan yang akan kutulis di hari mendatang untuk sekedar bertukar informasi atau pengalaman tentang apa saja. Rasanya susah juga ya menuangkan apa yang ada di benak untuk diuntai menjadi kalimat yang enak dibaca (maklum pemula…).

Salam kenal juga buat teman-teman yang kebetulan nyangkut di blog ini, semoga dapat menyambung tali silaturahmi diantara kita dan bisa saling mengingatkan tentang kebaikan dan kebajikan.

Blog ini kubuat saat berada jauh dari rumah dan kucoba mengisinya di sela-sela waktu luang. Jujur aku mulai tertarik buat blog karena sering membaca tulisan teman-teman di milis Kagama yang mengatakan bahwa buat blog itu gampang dan tulis aja apa yang ingin kamu tulis. Ya sudahlah akan kucoba…bismillah…

 

Tepian Mahakam – Kutai Kartanegara, 05 Maret 2011

Salam, Hariyadi Sudirman