Aku Cinta Ayah….(jilid 2)

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Ini satu lagi cerita yang saya copas dari postingan Mbak Aroem di Milis Kagama, sangat bagus sebagai bahan renungan kita semua khususnya saya pribadi…

Saat seorang ayah sedang memoles mobil barunya, anaknya yang berumur 4 tahun membaret-baret mobilnya dengan batu. Dengan marah, ayah tersebut meraih tangan anaknya dan memukulnya berkali-kali  tanpa menyadari dia memukulnya dengan kunci inggris.

Di rumah sakit, anaknya harus kehilangan jari-jarinya karena kerusakan tulang yang sangat parah.

Saat anak tersebut melihat ayahnya, dengan pandangan kesakitan, ia bertanya, “Ayah, akankah jari-jariku tumbuh lagi?” Lelaki tsb, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata-kata; ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali-kali. Hatinya hancur atas perbuatannya terhadap anaknya, saat berdiri di hadapan mobilnya, ia melihat baret-baret yang dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;

“AKU CINTA AYAH!”

MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA untuk mendapatkan hidup yang indah…

BENDA adalah sesuatu yang mestinya DIGUNAKAN dan MANUSIA yang mestinya DICINTAI.

Masalahnya dalam dunia ini; MANUSIA yang DIGUNAKAN dan BENDA yang DICINTAI…

Mulai saat ini, marilah lebih hati-hati mengingatkan diri kita bahwa: BENDA untuk DIGUNAKAN & MANUSIA yang mestinya DICINTAI.

Hidup hanya sekejap, maka:

Hati2 dengan PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.

Hati2 dengan KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.

Hati2 dengan TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.

Hati2 dengan KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.

Hati2 dengan KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.

Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan…

Jadikan hidupmu lebih berarti.

Hidup ini sangat singkat, cintai orang-orang disekelilingmu, cintai orang-orang yang mencintaimu.

‎​​​​Langit tidak selalu biru, Bunga tidak selalu mekar, dan Mentari tidak selalu bersinar…
Tapi ketahuilah bahwa akan selalu ada pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata, Berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do’a.
Jangan pernah menyerah sahabat, Terus berjuanglah, Life is so beautiful. Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, nikmatilah.

Dari Bukit Jati Lawang – Wonosegoro, Boyolali  15  April  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Aku Cinta Ayah…

Assalamu’alaikum wr. wb.

Kisah inspiratif ini saya copas dari Milis Kagama postingan Mas Valdi Riovia (mohon maaf buat yang punya cerita karena ini tentunya sudah di copas berkali-kali sampai tidak diketahui sumber aslinya). Ceritanya sangat menyentuh buat bahan renungan kita sebagai orang tua agar lebih bisa bersabar menghadapi ulah anak-anak kita, semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya saya pribadi…

Ayah kembalikan tangan Dita…..

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok
Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

NB: Buat anda yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah….semarah apapun anda, janganlah bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak-anak yang masih kecil karena mereka masih belum tahu apa-apa.
dan ingatlah, anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh TUHAN untuk kita.

Dari Lereng Gunung Telomoyo, Tuntang – Salatiga  13  April  2011

Wassalam,  Hariyadi Sudirman

Ranah 3 Warna

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah setelah seminggu yang lalu terbeli,  buku kedua dari Trilogi Negeri 3 Menara yang berjudul  “Ranah 3 Warna karya Mas Ahmad Fuadi  dengan susah payah akhirnya selesai juga kubaca.  Seperti pendahulunya “Negeri 3 Menara”, novel ini sarat nuansa perjuangan dan liku-liku hidup anak manusia yang punya mimpi untuk menginjakkan kakinya di benua Amerika.  Dengan bekal kalimat mantra yang diperoleh saat menuntut ilmu di Pondok Gontor dan selalu tersimpan di benak dan lubuk hatinya  :  man jadda wajada dan  man shabara zhafira, dia berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.

Yaa…dengan mantra yang berarti “siapa bersungguh-sungguh akan berhasil” dan  “siapa yang bersabar akan beruntung” itu Alif berhasil dalam memenangkan hidup. Kecintaannya pada orang tua dan juga sebaliknya doa orang tua yang  selalu menyertainya  dalam  meraih mimpi-mimpinya juga merupakan teladan yang patut ditiru.

Juga pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya (halaman 467) :

Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. inilah badai yang bisa membongkar dan menghempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut handal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?

Semoga kita semua bisa memetik hikmah yang terkandung dalam pikiran Mas Ahmad Fuadi yang tertuang dalam novel ini. Amin…..

Dari Lereng Gunung Selamet, Randu Dongkal – Pemalang,  31  Maret  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman