Pecel Pincuk Warung Pojok Madiun…

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Pulang ke kotaku…ada setangkup rasa rindu…tuk menikmati nasi pecel pincuk…..

Malam minggu jam 20.00, kumasuki kota Madiun setelah menempuh perjalanan dari Salatiga. Malam minggu begini di Alun-Alun penuh tumpah ruah lautan manusia…rupanya ada pameran dan pasar malam. Seperti kepulangan kami sekeluarga sebelumnya, selalu saja timbul keinginan tuk mampir dulu ke Warung Pojok di Jln. HOS Cokroaminoto Madiun. Menu pecel pincuk dan rawon merupakan menu favorit kami sekeluarga.

Setiap makan selalu saja si Sulung mengeluh kekenyangan, walau akhirnya habis juga. Lain lagi dengan si Kecil yang selalu tidak pernah menghabiskan apa saja yang dipesannya, omelan orangtua untuk menghabiskan apa yang dimakan lewat begitu saja…yaaa akhirnya ayah juga yang kena dampak tuk menghabiskannya, lihat tuch perut ayah sudah mulai kedepan….

Ahhh…nikmatnya makan malam bersama keluarga di malam minggu ini….

Dari Lereng Gunung Wilis – Madiun,  07  Mei  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Soto Itik Anang, Martapura…

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Depot Soto Anang yang terletak di Jln A. Yani  Martapura – Kalsel cukup ramai dikunjungi karena menunya yang maknyus yaitu soto itik, sate itik, itik panggang dan ayam panggang.

Tapi sayang untuk siang ini menu unggulan sate itik sudah habis padahal baru jam 1 siang. Gak apa-apalah cukup pesan soto itik dan es jeruk saja  sudah mengobati rasa lapar dan haus yang melanda setelah capek dan panasnya muter-muter di Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat Martapura.

Soto itik terdiri dari potongan ketupat, irisan telur dan suwiran daging itik. Rasanya gurih dan seger  membuat lidah bergoyang….

Silahkan mencoba dan menikmati…….

Dari Pinggiran Landasan Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru – Kalsel  01  Mei  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Malming di Alun-Alun Banjarbaru…

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Hari ini perjalanan cukup panjang dan melelahkan, dimulai dari Kutai Kartanegara berangkat jam 14.00 WITA menuju Bandara Sepinggan – Balikpapan. Sengaja berangkat lebih awal karena pengalaman sebelumnya, yang normalnya Kutai – Balikpapan ditempuh tidak lebih dari 2 jam tapi karena macet bisa sampai 4 jam lebih…dan ternyata jalanan lancar abis sehingga Kutai – Balikpapan hanya ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Alhasil di Balikpapan kota-kota dulu menyusuri jalan sepanjang Blok Pertamina Balikpapan…Pelabuhan Semayang…baru masuk Bandara Sepinggan.

Sriwijaya berangkat dari Sepinggan jam 19.05 WITA menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Perjalanan malam hari memang menegangkan, setiap pesawat melewati awan seperti digoncang-goncang. Setelah hampir 1 jam sampailah di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, yang kemudian dilanjut makan kepiting dan pecel lele di kaki lima bunderan Universitas Lambung Mangkurat.

Selesai makan langsung menuju hotel untuk mandi dan dilanjut nongkrong di seputaran Alun-Alun Banjarbaru. Malam minggu begini ternyata Alun-Alun penuh dengan orang-orang yang sekedar nongkrong sambil ngobrol dan minum kopi. Tempatnya cukup nyaman untuk santai karena memang disediakan bangku cukup banyak. Kupesan ronde ala Banjarbaru seperti foto diatas…lucu juga rondenya ada 2 buah biskuit yang mengapung diatasnya tapi lumayan juga buat menghangatkan tubuh…

Ternyata sudah lewat tengah malam…siap-siap balik hotel untuk istirahat…selamat malam Banjarbaru…

Dari Lantai Dua Permata Inn, Banjarbaru – Kalsel  30  April  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Kartinian….

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Besok tanggal 21 April yang berarti peringatan Hari Kartini, saiki opo jih usum ya kartinian alias yang perempuan sekolah pakai kebaya lengkap dengan jarit dan sanggulnya dan yang laki-laki pakai beskap lengkap dengan keris dan blangkonnya….

Seperti foto jadul ini, kalau gak keliru ini teman-teman SMA-ku “Basuki dan Kusrinarti” waktu ikut lomba kartinian di sekolah tahun 1985.

Yaa…ini wakil dari “Rhopherho”, sebutan untuk kita-kita yang duduk di bangku kelas “loro ipa loro” (Dua IPA 2) SMA Negeri 3 Madiun waktu lomba kartinian. Foto-foto jadul seperti ini yang dimunculkan waktu reunian Rhopherho dua tahun lalu yang langsung disambut gelak tawa dan saling mengejek teringat masa-masa di SMA dulu. Tidak terasa kalau itu sudah berlangsung 25 tahun yang lalu…. “nostalgia SMA”…

Awalnya tadi buka-buka email trus lihat di layar monitor…ehhh sekarang tanggal 20 ya yang berarti besok kartinian, langsung dech ingat kalau punya foto kartinian jaman SMA, buka foto-foto jadul dan ketemu foto jadul ini, sekalian aja diupload dan ditulis di blog.

Tapi lupa…waktu itu wakil Rhopherho ini bisa menang gak ya…lali maklum wis tuwek…hehehe…

Lha nek jaman saiki apa masih ada ya lomba “kartini-kartono” seperti jaman dulu…???

Buat para wanita Indonesia…..Selamat Hari Kartini….

Dari Bukit Jati Lawang – Wonosegoro, Boyolali  20  April  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Aku Cinta Ayah….(jilid 2)

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Ini satu lagi cerita yang saya copas dari postingan Mbak Aroem di Milis Kagama, sangat bagus sebagai bahan renungan kita semua khususnya saya pribadi…

Saat seorang ayah sedang memoles mobil barunya, anaknya yang berumur 4 tahun membaret-baret mobilnya dengan batu. Dengan marah, ayah tersebut meraih tangan anaknya dan memukulnya berkali-kali  tanpa menyadari dia memukulnya dengan kunci inggris.

Di rumah sakit, anaknya harus kehilangan jari-jarinya karena kerusakan tulang yang sangat parah.

Saat anak tersebut melihat ayahnya, dengan pandangan kesakitan, ia bertanya, “Ayah, akankah jari-jariku tumbuh lagi?” Lelaki tsb, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata-kata; ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali-kali. Hatinya hancur atas perbuatannya terhadap anaknya, saat berdiri di hadapan mobilnya, ia melihat baret-baret yang dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;

“AKU CINTA AYAH!”

MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA untuk mendapatkan hidup yang indah…

BENDA adalah sesuatu yang mestinya DIGUNAKAN dan MANUSIA yang mestinya DICINTAI.

Masalahnya dalam dunia ini; MANUSIA yang DIGUNAKAN dan BENDA yang DICINTAI…

Mulai saat ini, marilah lebih hati-hati mengingatkan diri kita bahwa: BENDA untuk DIGUNAKAN & MANUSIA yang mestinya DICINTAI.

Hidup hanya sekejap, maka:

Hati2 dengan PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.

Hati2 dengan KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.

Hati2 dengan TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.

Hati2 dengan KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.

Hati2 dengan KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.

Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan…

Jadikan hidupmu lebih berarti.

Hidup ini sangat singkat, cintai orang-orang disekelilingmu, cintai orang-orang yang mencintaimu.

‎​​​​Langit tidak selalu biru, Bunga tidak selalu mekar, dan Mentari tidak selalu bersinar…
Tapi ketahuilah bahwa akan selalu ada pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata, Berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do’a.
Jangan pernah menyerah sahabat, Terus berjuanglah, Life is so beautiful. Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, nikmatilah.

Dari Bukit Jati Lawang – Wonosegoro, Boyolali  15  April  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Aku Cinta Ayah…

Assalamu’alaikum wr. wb.

Kisah inspiratif ini saya copas dari Milis Kagama postingan Mas Valdi Riovia (mohon maaf buat yang punya cerita karena ini tentunya sudah di copas berkali-kali sampai tidak diketahui sumber aslinya). Ceritanya sangat menyentuh buat bahan renungan kita sebagai orang tua agar lebih bisa bersabar menghadapi ulah anak-anak kita, semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya saya pribadi…

Ayah kembalikan tangan Dita…..

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok
Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

NB: Buat anda yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah….semarah apapun anda, janganlah bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak-anak yang masih kecil karena mereka masih belum tahu apa-apa.
dan ingatlah, anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh TUHAN untuk kita.

Dari Lereng Gunung Telomoyo, Tuntang – Salatiga  13  April  2011

Wassalam,  Hariyadi Sudirman

Ranah 3 Warna

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah setelah seminggu yang lalu terbeli,  buku kedua dari Trilogi Negeri 3 Menara yang berjudul  “Ranah 3 Warna karya Mas Ahmad Fuadi  dengan susah payah akhirnya selesai juga kubaca.  Seperti pendahulunya “Negeri 3 Menara”, novel ini sarat nuansa perjuangan dan liku-liku hidup anak manusia yang punya mimpi untuk menginjakkan kakinya di benua Amerika.  Dengan bekal kalimat mantra yang diperoleh saat menuntut ilmu di Pondok Gontor dan selalu tersimpan di benak dan lubuk hatinya  :  man jadda wajada dan  man shabara zhafira, dia berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.

Yaa…dengan mantra yang berarti “siapa bersungguh-sungguh akan berhasil” dan  “siapa yang bersabar akan beruntung” itu Alif berhasil dalam memenangkan hidup. Kecintaannya pada orang tua dan juga sebaliknya doa orang tua yang  selalu menyertainya  dalam  meraih mimpi-mimpinya juga merupakan teladan yang patut ditiru.

Juga pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya (halaman 467) :

Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. inilah badai yang bisa membongkar dan menghempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut handal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?

Semoga kita semua bisa memetik hikmah yang terkandung dalam pikiran Mas Ahmad Fuadi yang tertuang dalam novel ini. Amin…..

Dari Lereng Gunung Selamet, Randu Dongkal – Pemalang,  31  Maret  2011

Salam,  Hariyadi Sudirman

Lomba Menggambar

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Sabtu kemarin tgl 26 Maret 2011, putri kecilku Faniar Tasha Almara (ehh… tidak terasa dia sudah umur 11 tahun) minta dianterin ikut lomba menggambar di Hotel Beringin – Salatiga. Terpaksa ijin tidak masuk kerja demi putri tercinta. Demi persiapan lomba, putriku minta diajarin Pakdhenya cara menggambar dan mewarnainya, maklum sudah kelas 5 SD dan di kota terdahulu kami “Purwakarta” sudah jarang diadain lomba menggambar untuk kelas 4 keatas. Jadi ini lomba pertama di kota ini yang diikutinya setelah hampir 2 tahun tidak pernah ikut lomba lagi.

Lomba diadakan pukul 14.00 dan peserta harus registrasi 30 menit sebelumnya. Jam 13.00 putriku udah merengek minta dianter sekarang juga, diluar hujan deras. Setelah proses negosiasi sana sini dengan alasan mau mandi dulu dan mau sholat, putriku dengan cemberut nungguin ayahnya selesai sholat. Jam 13.15 berangkat menuju hotel dan 10 menit kemudian sudah nyampe, dan ternyata ruangan masih sepi hanya ada panitianya…ahh mungkin karena diluar masih hujan kali…

Lomba ternyata mulainya molor sampai jam 14.30 karena nunggu pesertanya lengkap. Untuk menggambar dan mewarnai dikasih waktu 60 menit, mulailah putri kecilku menorehkan pensil diatas kertas dengan bekal ilmu yang diperoleh dari Pakdhenya. Inilah hasil akhirnya….

Setelah menunggu 30 menit untuk penjurian, tibalah saatnya untuk pengumuman hasil. Kakak pembawa acara mulai membacakan juaranya mulai dari juara harapan 2…. dan ketika menyebut juara harapan 1 ternyata nama putriku yang dipanggil….saya lihat ekspresinya sangat gembira sekali, dengan mantap digenggamnya piala itu sambil menyunggingkan senyum yang manis sekali…ohh putriku kelihatan sangat bahagia sekali walaupun tidak memperoleh juara tiga, dua atau bahkan juara satu…

Ini foto putriku (kedua dari kiri) ketika menerima piala dan piagam penghargaan…

Ini baru langkah awal putriku….teruslah belajar sama Pakdhe cara menggambar yang baik, maafkan ayahmu ini yang tidak bisa mengajarimu cara menggambar karena ayahmu memang tidak tahu caranya, bahkan menggambar adalah pelajaran yang paling ayah tidak sukai sejak ayahmu masih SD dulu….hiks..hiks..

Dari lereng Gunung Selamet, Randu Dongkal – Pemalang,  30  Maret  2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Hutan Wisata Alam Pulau Kembang, Banjarmasin – Kalsel

Untuk mencapai Hutan Wisata Alam Pulau Kembang kita harus menyusuri Sungai Barito karena memang letaknya di tengah Sungai Barito. Dengan menyewa ketinting kita bisa mulai menyelusuri Sungai Barito,

Kalau kita berangkat pagi-pagi sekali maka kita akan bertemu dengan Pasar Apung Sungai Barito. Macam-macam kebutuhan sehari-hari seperti sayuran dan buah-buahan dijual disini. Mereka menjajakan dagangannya dengan merapatkan perahu mereka ke perahu kita dan siap melakukan transaksi dan tawar menawar harga.

Selesai membeli pisang yang akan dipakai untuk memberi makan monyet-monyet di Pulau Kembang, kita bisa mampir di Warung Makan Apung yang banyak bertebaran di sepanjang sungai dengan menu khas soto dan rawon.

Setelah kenyang makan rawon, lanjut menuju Hutan Wisata Alam Pulau Kembang yang terkenal dengan wisata cagar alam dengan satwanya berupa monyet,

Sayangnya kita sudah menyelusuri hutan tak ada satupun monyet yang keluar padahal sudah dipanggil-panggil oleh pemandu wisata yang mengantarkan kita, infonya tadi pagi monyetnya sudah diberi makan pisang oleh turis-turis dari Malaysia, akhirnya monyet-monyet inilah yang nampang untuk foto bersama…hehehe…

Demikianlah sekelumit tentang Hutan Wisata Alam Pulau Kembang di tengah Sungai Barito, Banjarmasin – Kalsel, semoga dilain waktu bisa mampir lagi kesana dan bertemu dengan tuan rumahnya alias monyet…

Dari Pinggiran Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru – Kalsel,  08  Maret  2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Museum Mulawarman dan Pulau Kumala, Tenggarong – Kutai Kartanegara – Kaltim

Sabtu, 05 Maret 2011 melakukan perjalanan wisata ke Tenggarong – Kutai Kartanegara dari Loa Janan muter lewat Samarinda karena menurut info jalannya lebih mulus. Dari Samarinda ke Tenggarong dihubungkan oleh Jembatan Gerbang Daya yang melintasi Sungai Mahakam.

Gbr. Jembatan Gerbang Daya, Tenggarong – Kutai Kartanegara

Dari jembatan kita melewati Kantor Bupati Kutai Kartanegara menuju tujuan pertama yaitu Museum Mulawarman yang merupakan tempat penyimpanan peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Dengan tiket seharga Rp 2.500 per orang kita bisa memasuki bangunan bersejarah ini.

Gbr. Museum Mulawarman, Tenggarong – Kutai Kertanegara

Setelah selesai muter2 museum, lanjut ke Pulau Kumala yang  terletak di tengah Sungai Mahakam.

Berpose di Tepian Mahakam dengan latar belakang Pulau Kumala

Dengan menggunakan ketinting (perahu motor kecil) kita menyeberangi Sungai Mahakam menuju Pulau Kumala dengan tarif  Rp 20.000 sekali jalan.

Gbr. Ketinting, menyeberangi Sungai Mahakam

Tiket masuk Pulau Kumala seharga Rp 20.000 per orang (tiket hari Minggu dan Hari Besar) sudah termasuk soft drink dan keliling pulau menggunakan mobil Cabin Tour. Secara keseluruhan tempat wisata Pulau Kumala masih perlu banyak pembenahan karena masih banyak arena2 permainan yang kurang terawat, juga kios2 yang masih kosong dan tidak terawat. Maklum tempat ini baru diresmikan oleh Menteri Pariwisata Jero Wacik pada bulan Juni 2010 kemarin.

Gbr. Pintu Gerbang Pulau Kumala

Gbr. Pulau Kumala dengan Lembuswarnanya

Gbr. Mobil Cabin Tour, sarana transportasi keliling pulau

 

 

Dari Tepian Mahakam – Kutai Kartanegara, 05 Maret 2011

Salam, Hariyadi Sudirman

Previous Older Entries Next Newer Entries